Minggu, 21 Oktober 2012

Hadits Mengamalkan Ilmu

طلب العلم والعمل به:
MENGAMALKAN ILMU

1.  طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ (سنن ابن ماجه, كتاب المقدمة, باب فضل العلماء والحث على طلب العلم, رقم الحديث: 220).
Mencari ilmu wajib atas setiap Muslim. Orang yang memberikan ilmu kepada yang bukan ahlinya adalah seperti orang yang mengalungkan intan, permata dan emas kepada babi (Sunan Ibn Mâjah, Kitâb al-Muqaddimah, Bâb Fadhl al-'Ulamâ' wa al-Hitsts 'alâ Thalab al-'Ilm, hadis no. 220).
Banyak sekali pendapat tentang ilmu apa yang wajib dicari oleh setiap Muslim. Berikut di antara pendapat-pendapat itu:
1.        Ilmu yang setiap orang balig dan berakal harus mengetahuinya.
2.       Ilmu tentang apa saja yang terjadi pada diri.
3.       Ilmu yang dapat menjelaskan urusan agama yang menimpa seseorang.
4.      Ilmu yang setiap hamba tidak punya pilihan selain mengetahuinya seperti pengetahuan tentang Sang Pencipta, keesaan-Nya, kenabian Rasul-Nya, dan tata cara salat.
5.       Ilmu ikhlas.
6.       Ilmu khawâthir (seluk beluk jiwa).
7.       Ilmu tentang halal-haram.
8.       Ilmu jual-beli dan nikah-cerai bagi orang yang mau memasuki dunia jual-beli dan perkawinan.
9.       Ilmu tentang rukun Islam.
10.    Ilmu tauhid.
11.     Ilmu hati, yaitu ilmu yang menambah keyakinan seorang hamba.
Penggalan وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِه...ِ, memberi pesan bahwa setiap Muslim memiliki potensi dan keahlian masing-masing. Ketika potensi dan keahlian ini ditempatkan bukan pada tempatnya maka potensi dan keahlian akan musnah. Perumpamaan bagi penempatan potensi dan keahlian bukan pada tempatnya ini adalah seperti mengalungi hewan paling hina dengan perhiasan paling berharga. Dari hadits ini juga diperoleh pemahaman bahwa setiap orang hendaklah mencari ilmu yang selaras dengan potensi diri dan kedudukannya, setelah sebelumnya diperoleh ilmu yang wajib dimiliki oleh setiap orang, yakni ilmu tentang kewajiban-kewajiban umum agama. Setiap pendidik juga harus memerhatikan potensi setiap anak didiknya, lalu mengajari mereka sesuai dengan potensi masing-masing. 

2. اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ (سنن ابن ماجه, كتاب الدعاء, باب دعاء الرسول صلى الله عليه وسلم, رقم الحديث: 3823).

Ya Allah, jadikanlah apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku bermanfaat bagiku ajarkanlah aku apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmu kepadaku. Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan dan aku berlindung kepada Allah dari siksa neraka (Sunan Ibn Mâjah, Kitâb al-Du'â', Bâb Du'â al-Rasûl, hadis no. 3823).

1.        Ilmu yang sudah kita terima mudah2an bermanfaat
2.       Yang akan datang semoga bermanfaat juga
3.       Senantiasa berharap Ditambah ilmu-ilmu kita
4.      Membaca hamdalah sebagai ungkapan syukur
Tiga cara Bersyukur :
Binniat, didalam hati masing-masing
Bilisan, diucapkan dengan kalam “alhamdulilah”
Bil arkan, di implementasikan dengan anggota badan berupa melaksanakan ibdah-ibadah mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh.
5.       Berdo’a mendapatkan perlindungan dari alloh SWT setiap saat.



3.  سَلُوا اللَّهَ عِلْمًا نَافِعًا وَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ (سنن ابن ماجه, كتاب الدعاء, باب ما تعوذ منه رسول الله صلى الله عليه وسلم, رقم الحديث: 3833).

Mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat (Sunan Ibn Mâjah, Kitâb al-Du'â', Bâb Mâ Ta'awwadza Minh Rasûlullâh, hadis no. 3833).
  
Pada hakekatnya inti hadits diatas (3) adalah sama dengan hadits sebelumnya yakni :
1.  Senantiasa berharap dan berdoa seluruh ilmu yang kita terima bermanfaat dan maslahah fiddinina, fidunyana wal akhirotina.
2. Memohon perlindungan kepada Alloh dari segala ilmu yang tidak bermanfaat baik untuk dirinya maupun orang lain.

4. قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِثَلَاثٍ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَتُجَادِلُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلِتَصْرِفُوا بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْكُمْ وَابْتَغُوا بِقَوْلِكُمْ مَا عِنْدَ اللَّهِ فَإِنَّهُ يَدُومُ وَيَبْقَى وَيَنْفَدُ مَا سِوَاهُ (سنن الدارمي, كتاب المقدمة, باب العمل بالعلم وحسن النية فيه , رقم الحديث: 257).
Ibnu Mas'ûd berkata: "Janganlah mempelajari ilmu untuk tiga hal: membuat ragu orang-orang bodoh, membantah para ulama, dan menarik perhatian orang kepada kalian. Carilah dengan ucapan (ilmu) kalian apa yang ada di sisi Allah, sebab ia tidak putus dan kekal, sedang yang lainnya musnah" (Sunan al-Dârimî, Kitâb al-Muqaddimah, Bâb al-'Amal bî al-'Ilm wa Husn al-Niyyah Fîh, hadis no. 257).


Dilarang mempelajari tiga hal jenis ilmu ;
1.  Membuat ragu orang-orang bodoh,
2. Membantah para Ulama, dan
3. Berupaya menarik perhatian orang lain untuk tertuju pada pandangan kita.
4. Ilmu dari Alloh selalu menjadi prioritas karena sifatnya yang tidak akan pernah putus dan kekal abadi sementara yang lain (ilmu selain Alloh) bersifat musnah.

5. قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ كُونُوا يَنَابِيعَ الْعِلْمِ مَصَابِيحَ الْهُدَى أَحْلَاسَ الْبُيُوتِ سُرُجَ اللَّيْلِ جُدُدَ الْقُلُوبِ خُلْقَانَ الثِّيَابِ تُعْرَفُونَ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ وَتَخْفَوْنَ عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ (سنن الدارمي, كتاب المقدمة, باب العمل بالعلم وحسن النية فيه , رقم الحديث: 258).

Ibnu Mas'ûd berkata: "Jadilah kalian sumber ilmu, lentera petunjuk, tinggal di rumah yang permanen, lampu penerang malam (kegelapan), lembut hati, sopan busana, dikenal oleh penghuni langit, dan bersembunyi dari penghuni bumi" (Sunan al-Dârimî, Kitâb al-Muqaddimah, Bâb al-'Amal bî al-'Ilm wa Husn al-Niyyah Fîh, hadis no. 258).

Hadits diatas mengandung spirit untuk kita semua kaum muslimin senantiasa memposisikan diri sebagai ;
1. Orang yang kaya dengan ilmu pengetahuan, wawasan luas dan selalu berpola pikir  
yang positif;
2. Menjadi referensi persoalan yang dihadapi oleh kaum dan masayarakat sekitar,
3. dirumah yang bermanen dapat diartikan secara tektual adalah mereka yang telah mukim dan menempati tempat tinggal yang mudah dijangkau dan dicari banyak  orang, sedangkan secara maknawiyah mereka yang memiliki pandangan atau paradigma yang konsisten dan paten.
4. Menjadi sosok pencerah yang dapat memberikan solusi dalam banyak prolem kehidupan.
5. Memiliki etika yang baik, integritas dan kesopanan.
6. Tidak gampang menunjukkan kepintaran (riya’) sesama teman ataupun lawan dan memiliki kedekatan robbani .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar